|
Profile |
Music |
|
Rabu, 07 April 2010
tugas agama islam Konsep Ketuhanan Dalam Islam Setiap pandangan hidup meliputi tiga konsep utama, yaitu konsep alam, konsep manusia, dan konsep ilmu. Ada tiga masalah pokok yang perlu dijawab dengan memuaskan. Apakah hakikat alam? Siapakah manusia? Bagaimanakah manusia boleh mengetahui? Setiap masalah dan jawaban yang akan diberi kepadanya banyak menentukan atau mempengaruhi bentuk, corak, dan ciri-ciri ilmu sains yang hendak dimajukan oleh sesuatu masyarakat atau peradaban. Bagi pandangan hidup yang bersifat dan bercorak keagamaan, ketiga konsep tersebut didasari oleh satu konsep lain yang lebih asasi dan fundamental sifatnya, yaitu konsep ketuhanan. Bagi pandangan hidup yang mengenyampingkan agama, tempat dan peranan konsep ketuhanan diambil alih oleh ideologi ciptaan manusia. Dari segi teori dan praktiknya, konsep ketuhanan banyak mempengaruhi konsep alam, konsep manusia dan konsep ilmu. Oleh karena konsep ketuhanan dalam Islam tidak sama dengan konsep ketuhanan dalam peradaban Barat, sebagai akibatnya, kedua peradaban tamadun juga berbeda dalam memahami konsep alam, konsep manusia dan konsep ilmu. Konsep Islam Dalam konteks peradaban Islam pula, kita dapati bahwa bukan saja konsep ketuhanannya yang tidak mengalami perubahan besar tetapi juga tiga konsep lainnya. Konsep kemajuan dan pembangunan dalam Islam telah didasarkan pada tempat konsep pokok ini. Meskipun pada dasarnya keempat-empat konsep ini tidak berubah, tetapi teras pengajian sains Islam yang terbentuk daripada unsur-unsur yang terkandung di dalam empat konsep ini telah berjaya mencetuskan kemajuan sains dan teknologi yang terdepan di dunia selama lebih kurang lapan abad, yaitu dari abad ke-9 Masehi hingga ke abad enam belas Masehi. Kemerosotan umat Islam pada abad-abad berikutnya bukan berpuncak daripada konsep ketuhanan dan konsep tiga konsep lain yang tidak diizinkan berubah itu. Puncak utamanya ialah apabila empat konsep ini tidak lagi ditanggapi dan dipahami dengan betul dan sekomprehensif seperti di zaman keagungan ilmu-ilmu Islam. Intisari konsep ketuhanan dalam Islam ialah prinsip tauhid yang merujuk kepada keesaan Allah dari segi dzat-Nya, sifat-Nya dan perbuatan-Nya. Ini menjadikan ilmu tauhid, yakni ilmu keesaan Tuhan, sebagai ilmu tertinggi dan terpenting di kalangan semua jenis dan cabang ilmu. Bukan itu saja, ilmu tauhid menjadi teras ilmu, juga, sebagai dasar dan sumber segala ilmu yang lain. la merupakan ujung pangkal segala ilmu, titik tolak segala ilmu dan tujuan akhir segala ilmu. Di sini boleh dijelaskan sebagai contoh bagaimana ilmu sains berakar pada ilmu tauhid, khususnya ilmu keesaan perbuatan Allah. Ilmu sains berminat untuk mengkaji kosmos dan bagian-bagiannya. Tetapi ilmu tauhid seperti yang diwahyukan di dalam al-Quran sudah menyediakan kerangka spiritual dan metafisik bagi pengajian alam semesta oleh karena ilmu keesaan perbuatan Allah menunjukkan dengan jelas kepada kita hubungan antara Tuhan dan alam serta skop atau ruang lingkup perbuatan dan peranan Allah dalam alam semesta. Ini bermakna bahwa dalam Islam ilmu kosmologi (pengajian alam semesta) berakar dari ilmu tauhid. Akal dan Konsep Ketuhanan Meskipun meyakini adanya Tuhan adalah masalah fithri yang tertanam dalam diri setiap manusia, namun karena kecintaan mereka kepada dunia yang berlebihan sehingga mereka disibukkan dengannya, mengakibatkan mereka lupa kepada Sang Pencipta dan kepada jati diri mereka sendiri. Yang pada gilirannya, cahaya fitrah mereka redup atau bahkan padam. Walaupun demikian, jalan menuju Allah itu banyak. Para ahli ma’rifat berkata, ”Jalan-jalan menuju ma’rifatullah sebanyak nafas makhluk.” Salah satu jalan ma’rifatullah adalah akal. Terdapat sekelompok kaum muslim, golongan ahli Hadis (Salafi) atau Wahabi, yang menolak peran aktif akal sehubungan dengan ketuhanan. Mereka berpendapat, bahwa satu-satunya jalan untuk mengetahui Allah adalah nash (Al Quran dan Hadis). Mereka beralasan dengan adanya sejumlah ayat dan riwayat yang secara lahiriah melarang menggunakan akal (ra’yu). Padahal kalau kita perhatikan, ternyata Al Quran dan Hadis sendiri mengajak kita untuk menggunakan akal, bahkan menggunakan keduanya ketika menjelaskan keberadaan Allah lewat argumentasi (burhan) aqli. Pada tulisan berikutnya, insya Allah akan kita bicarakan tentang Al-Qur’an, Hadis dan konsep ketuhanan. Bisakah Tuhan dibuktikan dengan akal ? Sebenarnya pertanyaan ini tidaklah tepat, karena bukan saja Allah bisa dibuktikan dengan akal. Bahkan, pada beberapa kondisi dan situasi hal itu harus dibuktikan dengan akal dan tidak mungkin melakukan pembuktian tanpa akal. Anggapan yang mengatakan, bahwa pembuktian wujud Allah hanya dengan nash saja adalah anggapan sangat naif. Karena bagaimana mungkin seseorang menerima keterangan Al-Qur’an, sementara dia belum mempercayai wujud (keberadaan) sumber Al Quran itu sendiri Al-Qur’an, yaitu Allah Ta’ala. Lebih naif lagi, mereka menerima keterangan Al Quran lantaran ia adalah kalamullah atau sesuatu yang datang dari Allah. Hal ini berarti, mereka telah meyakini wujud Allah sebelum menerima keterangan Al-Qur’an. Lalu mengapa mereka meyakini wujud Allah ? Mereka menjawab, “Karena Al Quran mengatakan demikian.” Maka terjadilah daur (Lingkaran setan ?, lihat istilah daur pada pembahasan selanjutnya). Dalam hal ini, Al Quran dijadikan sebagai pendukung dan penguat dalil aqli. Para ulama, ketika membuktikan wujud Allah dengan menggunakan burhan aqli, terkadang melalui pendekatan kalami (teologis) atau pendekatan filosofi. 06.45
|
Tagbox Affiliates Kikih Intan Maya Okti Sally Nining Fren |